satu hari untuk bumi

Pagi hari, Kamis (22/4), pengguna Jl Veteran dan Jl Bogor, Malang, disuguhi pemandangan menarik. Di sisi jalan berjajar rombongan anak yang memakai busana tradisional. Awalnya, orang akan mengira anak-anak itu tengah memperingati Hari Kartini. Namun, saat melihat tangan mereka membawa bibit-bibit pohon dalam polybag ukuran kecil, orang yakin jika mereka tak cuma memperingati hari tersebut.

Anak-anak itu didampingi orang tua masing-masing. Mereka menghentikan kendaraan yang lewat. Biasanya orang akan menggerutu jika perjalanannya terganggu, tetapi kali ini para pengguna jalan tersenyum bahkan berterima kasih. Betapa tidak, mereka mendapatkan bibit pohon gratis.

Senyum juga tersungging di bibir anak-anak itu. Meski tak selalu terucap, pesan kecil mereka sampaikan saat membagikan pohon-pohon muda. “Ayo Om-Tante, Bapak-Ibu, Mas-Mbak, hijaukan bumi!”

Rombongan unik itu adalah anak-anak SD Laboratorium Universitas Negeri Malang. Mereka sedang memperingati HUT ke-24 sekolah mereka, Hari Kartini, Hari Buku sekaligus Hari Bumi. Tanggal 22 April dicanangkan sebagai hari menyayangi dan berterima kasih pada bumi. Tak banyak yang tahu tentang itu. Kalau toh tahu, tak banyak yang peduli, apalagi yang mau repot-repot memperingatinya dengan aksi nyata. Sungguh ironis!

Hari itu, saya lewat pula di jalan itu. Sambil menerima bibit gratis dari anak-anak yang manis, pikiran saya mengingat sesuatu. Sejak meninggalkan rumah sampai tiba di Jalan Bogor, saya melihat banyak hal yang berlawanan dengan kegiatan itu. Di satu kampung tampak sampah teronggok tak karuan, di jalan besar kesibukan pekerja membangun tembok beton berlangsung tanpa henti. Lahan hijau pun berubah menjadi ruko dan rumah. Melewati sebuah jembatan, mata dipaksa melihat orang buang hajat di sungai yang keruh. Belum lagi kegiatan yang boros air dan energi, serta kesemerawutan kendaraan penyebab polusi. Tentu saja saya tak cuma melihatnya pada hari ini!

Membayangkannya, tiba-tiba saya menjadi ngeri. Kegiatan perusakan bumi terjadi dalam hitungan detik, sedangkan kegiatan merawat bumi hanya diadakan sesekali. Kesimpulannya, kecepatan perusakan terhadap bumi terjadi bagaikan deret ukur. Sedangkan upaya manusia merawat bumi bagaikan deret hitung.

Setiap hari bumi teraniaya oleh ulah manusia. Bertambahnya jumlah penduduk membuat kebutuhan sumber daya alam meningkat tajam. Hutan-hutan menciut drastis, mineral dieksploitasi seolah tak ada hari esok. Air yang dulu dianggap sebagai sumber alam tak terbatas, kini menjadi komoditi mahal. Permukaan tanah menurun, iklim kacau dan suhu bumi memanas. Suatu daerah kebanjiran, daerah lain kekeringan. Bencana ekologis menghantam manusia. Harga kemajuan fisik ternyata sangat mahal!

Memang, kesadaran memelihara bumi semakin tumbuh. Semakin banyak orang yang mengabdikan diri untuk lingkungan. Akan tetapi jumlah mereka tak sebanding dengan jumlah orang-orang rakus yang terus membuat kerusakan. Mahatma Gandi pernah mengatakan “The earth is enough for human life, but not enough for human greedy”!

Setelah menerima bibit pohon saya segera pulang, untuk menunaikan amanat dari anak-anak manis pewaris bumi.n

Jumat, 23 April 2010 di 17.36

0 Comments to "satu hari untuk bumi"

Posting Komentar